Diceraikan Sang Istri Karena Punya Anak Cacat, Pria Ini Tak Kenal Lelah Tetap Menyambung Hidupnya Dengan Jualan Es Serut, Jalan Puluhan Kilo Tiap Hari Sambil Rawat Putranya

Kisah menyentuh kali ini datang dari seorang bapak penjual es serut di pinggir jalan. Tanpa lelah ia berjualan tiap hari demi menyambung hidup. Di samping dagangannya ada seorang anak yang duduk di kursi roda. Anak tersebut merupakan putranya yang divonis berkebutuhan khusus. Ia terpaksa berjualan sambil membawa anaknya karena tak ada yang menjaga sang putra bila d tinggal di rumah sendiri. Istrinya pergi begitu saja kala mengetahui anak mereka divonis memiliki kekurangan.

Sedih yang teramat sangat dirasakan pria yang telah berumur itu jika mengingat kepergian istrinya. Tapi, ia harus bangkit dan berjuang demi pengobatan putranya. Pria yang akrab disapa Paman Dam oleh pembeli langganannya itu pun menceritakan kisahnya.

Dikutip dari Wongnai.com pada Rabu (4/12/2019), Paman Dam berjualan di pinggir jalan di salah satu sudut kota Bangkok. Es serut cukup populer di Bangkok mengingat cuaca di sana yang panas. Setiap hari Paman Dam selalu mangkal di lokasinya berjualan bersama gerobak dagangannya.
Jarak rumah dengan tempatnya berjualan tak dekat. Setidaknya 6 kilometer harus ditempuhnya sambil berjalan kaki setiap hari.

Sang putra pun duduk di sebelah gerobak. Payung besar melindunginya dari teriknya matahari. Paman Dam menjual es serutnya seharga 10 Baht (Rp 4,6 ribu) per mangkuknya. Awalnya ia menjual seharga 15 baht (Rp 6,9 ribu), tapi banyak pembeli merasa terlalu mahal.

Putra Paman Dam menunjukkan tanda-tanda cacat fisik ketika ia berusia delapan bulan. Dan ketika istrinya mengetahui kondisi anaknya, ia meninggalkan mereka berdua.

Paman Dam mengaku hancur dan sempat mencoba bunuh diri saat itu. Namun, akhirnya Paman Dam memilih bertahan dan bangkit.

Memulai bisnis sendiri sambil merawat putra satu-satunya. Ketika ditanya bagaimana dia terus tetap kuat meskipun ada banyak tantangan dalam hidupnya, dia berkata:

‘Aku berhasil melewati masa laluku dengan hanya berfokus pada masa kini, dan memberi diriku alasan untuk selalu bahagia.’

Baginya masa lalu hanya masa lalu dan manusia harus terus maju.

‘Masa lalu harus tetap di masa lalu dan kita semua harus berusaha untuk bahagia di masa sekarang.

‘Masa depan tidak dapat diprediksi dan karenanya kita tidak perlu terlalu khawatir tentang hal itu’, kata Paman Dam.

Sang putra selalu ia bawa untuk menemaninya berjualan, karena ia merupakan pilar kekuatan bagi ayahnya.