Kiai Asal Purwakarta Beberkan Rahasia Al-Qur’an: Ramadhan, InsyaAllah Covid-19 Berakhir, Sebarkan Kabar Gembira

Jumlah kasus positif corona hingga Jumat (17/3/2020) masih terus bertambah mencapai total 5.923 orang.

Data itu bukanlah angka semata, tetapi indikasi betapa penularan covid-19 belum bisa ditekan secara signifikan.

Penetapan status Pembatasan Sosial Berskala Besar sudah berjalan beberapa hari secara resmi di wilayah DKI dan Jawa Barat meliputi Bogor, Depok, dan Bekasi.

Namun tetap saja, penetapan status itu tidak juga bisa membatasai pergerakan manusia setiap harinya untuk tetap berada di rumah.

Secara mengagetkan, alih-alih mengkhawatirkan, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengungkapkan prediksi penyebaran covid-19 hingga Juli 2020 masih akan terus bertambah.

Data, yang semuanya tentu berdoa ini tidak mesti terjadi, bahwa berdasarkan hasil kajian yang dihimpun mengungkapkan puncak penyebaran virus covid-19 akan terjadi pada Mei 2020.

Wiku mengatakan puncak pandemik akan dimulai pada Mei, dan berakhir sekira awal Juni.

“Prediksi kasus ini pada umumnya dilakukan oleh para ahli yang datang dari berbagai kelompok, lembaga ilmiah dan individu,” kata Wiku Adisasmito dalam siaran pers virtual yang diselenggarakan di Media Centre Covid-19 Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (16/4/2020).

Ia memprediksi pada puncak penyebaran di bulan Mei itu akan ada 95 ribu kasus.

“Jumlah kasus kumulatif selama puncak adalah 95 ribu,” tegas Wiku Adisasmito.

Meski begitu, untuk dua bulan ke depannya, atau pada bulan Juni hingga Juli, pemerintah diprediksi masih menemukan penduduk yang masih terinfeksi corona.

“Sebaliknya, pada Juni dan Juli, kasus terkonfirmasi secara kumulatif akan mencapai 106 ribu kasus,” ujarnya.

Apakah prediksi itu bisa dibantah? Tentu bisa. Apa pun yang diprediksikan bisa berubah, jika ditemukan solusi baru untuk mengatasinya.

Direktur Perguruan Tinggi dan Menengah Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Purwakarta, KH R Marfu Muhyidin Ilyas, mengungkapkan prediksi berdasarkan perpektif Al-Qur’an terkait akhir dari wabah pandemik ini.

Melalui akun Instagramnya @guru4ngaji, Kiai Marfu mengetengahkan konsep puasa di bulan suci Ramadhan melawan Covid-19.

Menurutnya di dalam Al-Qur’an surat At-Talaq (65) ayat 2-3, Allah berfirman “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (dari segala masalah). Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”

Dalam ayat itu, Allah sebagai Tuhan yang Maha Kuasa akan membukakan pintu keluar dan menganugerahi rezeki, bahkan dari yang tidak kita duga jika hambanya benar-benar bertakwa. Termasuk di dalamnya tebebas dari masalah besar wabah corona.

Artinya takwa, menurut Pengasuh Ponpes Al-Muhajirin itu, adalah solusi.

Ayat ini, menurut Kiai Marfu, berkorelasi dengan perintah Allah kepada hambanya yang beriman untuk berpuasa di bulan Ramadhan, yakni surat Al-Baqarah (2) ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

Konsekuensi dari seseorang yang menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan dengan benar, serius, dan sungguh-sungguh karena Allah adalah meraih derajat takwa.

“Dari dua ayat ini @guru4ngaji menyimpulkan bahwa Ramadhan adalah puncak solusi dari Covid-19, bukan puncak kasus atau penyebarannya,” ungkapnya.

Konsepsi ini tentu sederhana dipahami jika dilihat dari perpektif keyakinan sebagai seorang muslim.

Dan upaya ini juga sama sekali tidak bertentangan dengan protokol kesehatan yang sudah terus menerus disosialisasikan pemerintah terkait physical distancing dan pembatasan sosial.

Konsepsi ini justru seiring sejalan karena punya dimensi masing-masing yang, seharusnya, saling melengkapi.

Jika saja selama Bulan Ramadhan yang diperkirakan berlangsung mulai akhir April hingga Mei ini betul-betul umat Islam khususnya bisa benar-benar disiplin berdiam diri di rumah dengan berpuasa sungguh-sungguh dalam arti luas, maka bukan mustahil Covid-19 bisa teratasi.

Ramadhan, Insya Allah Covid 19 berakhir. Baca, pahami, yakini, baru sebarluaskan. Biasakan sebarluaskan kabar gembira dan tenggelamkan kabar duka,” ujar Kiai bersahaja ini.