Kisah Haru, Seorang Pemulung Tahan Lapar Dua Hari: Saya Gak Makan Pak, Kemarin Juga

Terlihat tangis haru dari seorang ibu yang bersyukur mendapat sekarung beras terlebih dirinya tidak makan dan menahan lapar saat itu.
Kejadian pilu ini dibagikan melalui akun Instagram @semangatberbagi_official baru-baru ini.
Dampak adanya pandemi virus corona atau corona virus disease (Covid-19) kini semakin terasa tak hanya pada kesehatan namun juga bagi perekonomian masyarakat.
Pasalnya pemberlakuan pembatasan jarak antar manusia semakin diperketat sehingga beberapa usaha dan sektor terpaksa harus ditutup.
Hal ini tak lain bertujuan demi memutus mata rantai penyebaran virus corona agar tidak semakin meluas.
Sehingga di tengah pandemi virus corona ini tak sedikit masyarakat yang harus memutar otak untuk tetap bisa mencukupi kebutuhan terutama untuk makan sehari-hari.
Bahkan, salah seorang warga yang terdampak virus ini ada yang sampai menahan lapar karena kondisi dan kesuliatan ekonomi.
Cerita pemulung tidak makan dua hari dampak virus corona
Cerita pemulung tidak makan dua hari dampak virus corona (Instagram/@semangatberbagi_official)
Hal inilah yang dialami oleh seorang ibu yang berjuang demi sesuap nasi untuk anak-anaknya.
Diketahui jika ibu ini menjadi pemulung untuk mencari barang bekas dan tetap harus melakukan pekerrjaannya demi keluarga meski di tengah kondisi saat ini.
Namun, rezeki yang tertakar tidak akan pernah tertukar, karena Sang Pemberi Rezeki melalui tangan orang-orang dermawan inilah si ibu tertolong.
Terlihat tangis haru dari seorang ibu yang bersyukur mendapat sekarung beras terlebih dirinya tidak makan dan menahan lapar saat itu.
Kejadian pilu ini dibagikan melalui akun Instagram @semangatberbagi_official baru-baru ini.
Cerita pemulung tidak makan dua hari dampak virus corona kini mendapat sekarung beras dari dermawan
@semangatberbagi_official – Miris hati melihat dan mendengar ibu ini bercerita. Seberat ini perjuangannya hanya untuk makan.
Beliau tetap berusaha, menjadi pemulung berjalan jauh, mencari barang bekas. Beliau tetap bekerja meski harus menahan lapar.

Jika, ibu ini tak mendapat beras, sudah dua hari beliau tidak makan. Bahkan bukan hanya ibu ini yang tak makan tapi juga anak-anaknya.

Sahabat, Ibu ini menangis bukan mengeluh, beliau terharu bahagia, bersyukur masih ada dermawan yang ingin membantunya di tengah kondisi yang sulit ini.

Kita tidak tahu ada berapa banyak ibu lain yang seperti ini, ada berapa banyak keluarga adan anak-anak yang kelaparan.

Sahabat, mari terus bergerak untuk membantu. Kita #SebarkanVirusOptimis, kita #BersamaSelamatkanBangsa dari kelaparan disaat wabah covid-19,” tulis keterangan video.
Pandemi virus corona atau covid-19 telah berlangsung lebih dari sebulan lamanya di Indonesia.
Kini kasus terkonfirmasi virus corona di Indonesia telah mencapai angka 4 ribu lebih.
Untuk itulah pemerintah dan otoritas setempat memberlakukan berbagai cara demi menanggulangi penyebaran virus corona agar tidak semakin meluas.
Salah satu langkah antisipasi dan upaya pencegahan yang diberlakukan yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Hal ini berdampak pada kegiatan berbagai sektor di masyarakat termasuk para pedagang yang harus rela menutup sementara dagangannya sebagai imbas virus corona.
Ibu pedagang ini masih berjualan demi keluarga di tengah pandemi corona
Ibarat buah simalakama, inilah curahan hati seorang ibu yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima.
Ibu ini berasal dari Padang dan berjualan demi menghidupi keluarganya.
Di tengah pandemi corona, banyak masyarakat kehilangan pekerjaan bahkan ada yang harus rela menutup lapaknya sendiri.
Bukan tak mau menurut dengan pemerintah, beberapa pedagang tidak tahu harus bagaimana selain berjualan untuk bertahan hidup.
Video berdurasi singkat yang memperlihatkan seorang ibu masih membuka lapaknya dengan berjualan pakaian di tengah pandemi corona.
Nampak sejumlah petugas dari anggota kepolisian menghampiri si ibu lalu menyampaikan perintah negara dengan memberikan arahan seputar virus corona.
“Cuma kalo bisa pak, kalo boleh ya pak ya, saya mewakili ibu-ibu, kami butuh makan pak, anak kami masih kecil-kecil,” ungkap ibu itu sambil menahan tangis.
Ucapan ibu ini pun begitu menyayat hati, “di luar mati karena corona, di rumah kami mati kelaparan pak,” ujarnya.
“Kan sama mati-mati juga pak, emang gak kasian sama kami,” tambah si ibu.
Ibu pedagang ini masih berjualan demi keluarga di tengah pandemi corona
Ibu ini mengungkapkan kesusahan yang dialaminya sebagai dampak pandemi virus corona.
“Cicilan katanya boleh ditangguhkan, tidak ada penangguhan pak, boleh ditangguhkan ibu tapi ibu bayar murah katanya harus bayar, kami bayar dari mana pak,” ucap ibu itu lagi.
“Kami hanya dagang kaki lima, kami ngerti buat kita bersama, tapi kalo seperti ini kami gak makan gimana pak,” ujarnya lagi.
“Kalo ada solusi dari pemerintah tolong kami, bantu kami sembako buat makan pak,” ujar si ibu hampir menangis.
Seorang petugas pun menimpali keluhan si ibu dan mencoba memberikan pengertian terkait permasalahannya.
“Ibu tenang aja, nanti keluhan ibu akan saya sampaikan ke kepala saya keluhannya nih para pedagang begini-begini, sekarang siapa yang mau tanggung jawab kan begitu,” ujar seorang petugas.
Ibu tersebut masih mengeluarkan beban yang ada di hatinya dengan ekspresi yang cemas dan bingung.
“Nah pak di rumah kami mati kelaparan, di luar mati karena corona, mana yang mana kalo gak racunin aja kami semua kan biar kami mati,” ungkap si ibu sambil terisak.
“Gimana gak hancur ‘bu minta makan’ gak ada yang buat dimakan, 10 hari kami numpang tetangga, tetangga juga kalo gak dibayarlama-lama gak mau pak, dia kan juga butuh modal,” ujar si ibu.
“Kemana kami harus ngadu pak? Kami dirumahkan tapi gimana,” tambahnya.
Diketahui jika ibu ini bernama Yernis berasal dari Kota Solok, Padang dan memiliki 4 orang anak, sementara suaminya juga berprofesi sebagai pedagang kaki lima.
“Saya punya anak 4, suami saya juga dagang sama barengan, kalo gak dagang kami gak makan pak,” ucap si ibu di akhir video.