Dianggap Sedekah Berlebihan untuk C0V1D-19, Koh Steven: Hanya Ikhtiar dan Berharap Allah Ridha

Steven Indra Wibowo (Koh Steven) merupakan seorang mualaf yang tak ragu menjual hampir seluruh hartanya, demi membantu menangani dampak pandemi COVID-19, di Indonesia. Pendiri sekaligus Ketua Mualaf Center Indonesia itu, mengaku hanya berikhtiar dan mengharapkan ridha Allah.
“Ada beberapa follower mengatakan, jangan berlebihan dalam sedekah. Saya selalu jawab dengan jawaban yang sama,” tuturnya.
“Saya gak tau ini dianggap sedekah atau apa. Namun, saya hanya ikhtiar, mengembalikan apa pun yang sudah Allah titipkan,” sambung Koh Steven.
“Dengan cara yang baik menurut saya, walau saya juga tahu, Allah, sudah mengingatkan di QS. Al-Baqarah: 216, apa yang kita pikirkan baik belum tentu baik juga menurut Allah,” imbuhnya.
“Jadi hanya ikhtiar dan berharap Allah ridha, hanya itu, jadi maaf sedikit mengabaikan penilaian manusia,” lanjut Koh Steven.
Baginya, harta hanyalah titipan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka yang namanya titipan, pasti akan kembali.
Menurut Koh Steven, hanya ada dua jalan kembali, yakni dalam keadaan dipaksa karena suatu musibah dan sebagainya, atau dalam bentuk sedekah.
“Saya memilih mengembalikan ini dengan cara yang baik. Ini harta pinjaman dari Allah, saya cuma ingin balikin, momennya sekarang lagi bagus,” ujarnya.
“Ya sudah, saya balikin saja, karena cepat atau lambat, itu akan kembali, dan akan Allah minta pertanggungjawabannya,” sambung Koh Steven.
Lebih lanjut ia menjelaskan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga pernah mengingatkan kepada orang-orang, soal dua hal yang tidak disukai anak Adam.
“(Pertama) kematian, padahal itu lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah (kesesatan di dalam agama),” kata Koh Steven.
“(Kedua) dia membenci sedikit harta, padahal sedikit harta itu lebih menyedikitkan hisab (perhitungan amal),” imbuhnya menuturkan [HR. Ahmad, dan lain-lain, dishahihkan oleh al-Albâni di dalam ash-Shahîhah: 813].
“Saya berpatokan pada hal itu saja, ya sudahlah, ini balikin saja. Dulu waktu saya mualaf, juga dibikin miskin kok,” akuan Koh Steven.
“Dan Allah bisa bikin saya seperti sampai kemarin. Tidak akan sulit bagi Allah, mengembalikan saya ke posisi kemarin, yang penting ‘kan tauhidnya kita, yakin Allah akan cukupin itu semua,” jelasnya.

Koh Steven, sudah menjual dua rumah, tujuh mobil, dan tiga motor gede miliknya, sementara satu rumah di Salatiga, masih menunggu pemilik barunya.
“Sisa satu rumah ini, yang lagi ditawarin, dan satu motor yang saya pakai,” bebernya.
Sekarang, Koh Steven dan 11 tim-nya, tinggal di Yogyakarta, tepatnya di sebuah kontrakan.
Sedangkan sang istri, Nuri, kini tinggal bersama orang tuanya, di Bandung.
“Istri saya numpang di rumah mertua. Saya di Yogyakarta, sudah dari Februari, jadi memang sudah prepare (bersiap),” kata Koh Steven.
Dari hasil penjualannya, ia telah memproduksi 48 ribu pakaian hazmat, untuk dibagikan gratis ke 4.781 rumah sakit umum daerah, rumah sakit swasta, hingga puskesmas, di seluruh Indonesia.
“Sampai ke tempat pemakaman umum, kita kirim hazmat juga, untuk mereka yang memakamkan korban meninggal,” kata Koh Steven.
“Dan yang boleh minta itu, hanya fasilitas kesehatan dengan tenaga kesehatan yang resmi. Dokter dan perawat yang resmi,” sambungnya.
Selain hazmat, Koh Steven, juga memasang surgical gown ke 43 ribu pakaian Alat Pelindung Diri (APD) sumbangan, yang diterima banyak rumah sakit.
Surgical gown dipasang, karena APD sumbangan, belum berstandar WHO.
“Daripada tidak bisa dipakai, mereka minta memasang surgical gown di bagian dalam hazmat,” jelas Koh Steven.
“Supaya di bagian yang dijahit itu, jika virus masuk, maka ditahan surgical gown, karena ‘kan tidak boleh dijahit, agar tidak tembus,” imbuhnya.
Sebelumnya, Koh Steven, sudah lebih dulu memproduksi masker, dengan total yang telah dibagikan gratis, 150 ribu masker, yang 12 ribu di antaranya merupakan masker N95 tujuh lapis. Sisanya masker medis tiga lapis.
Sampai saat ini, ia masih memproduksi 60 ribu masker medis, dan 8.000 masker N95.
“Setelah masker, baru ke (memproduksi) hazmat, tetapi saat itu butuh uang lagi, lalu saya jual mobil satu per satu,” kata Koh Steven.
Dari penjualan yang ia lakukan, berhasil terkumpul uang hingga mencapai Rp11,2 miliar.
“Kalau sama mesin (impor untuk produksi) itu sekitar Rp12,8 miliar,” ungkapnya.
Selain hazmat dan masker, Koh Steven, juga membagikan gratis 80 ribu liter hand sanitizer, ribuan paket sembako dan makanan siap saji.
Sedikitnya, sudah 120 ribu paket sembako dan 560 ribu paket makanan siap santap yang dibagikan gratis, ke seluruh Indonesia.
“Di tiap wilayah, saya menggerakkan warung makan lokal, termasuk juga tempat fast food,” jelasnya.
“Saya bagikan bukan hanya untuk Muslim saja, tetapi semua yang lapar, kita kasih,” sambung Koh Steven.
Melalui Yayasan Mualaf Center Indonesia, ia juga membuka donasi, maka untuk siapapun yang ingin membantu dapat bergabung.
Setidaknya, sudah Rp480 juta terkumpul dalam donasi itu, yang kemudian bisa digunakan untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Mengingat dana yang ia miliki semakin menipis, maka Koh Steven, berharap pihak lain bisa ikut bergerak.
Pasalnya, makanan siap saji yang semula dikirim sampai 2.000 paket, kini berkurang menjadi 700 atau 1.000 saja.
Paket sembako yang dikirim, juga tak sebanyak sebelumnya.
“Saya berharap, gerakan ini diduplikasi oleh orang lain, karena kapasitas saya ini akan berakhir, pasti ada ujungnya,” ujarnya.
“Dan ini akan menjadi panjang dan lama. Orang lapar pasti ada terus,” kata Koh Steven.
Saat ini, ada 70 lebih penjahit yang membantu memproduksi ribuan hazmat. Di mana Koh Steven, yang menanggung biaya listrik, termasuk bayaran tenaga puluhan penjahit itu.
Meski para penjahit bekerja lebih dari 12 jam, dan ongkos lemburnya tidak dibayar, mereka mengaku tidak keberatan.
“Saya bilang dari awal ke mereka, ini untuk di-donasikan, buat berkhidmat. Kata mereka enggak apa-apa, sekalian beramal. Mereka dibayar normal, tetapi lemburannya tidak dibayar,” tuturnya.
“Saya tidak jual, tidak mencari cuan (uang), tidak mencari untung. Jadi produksi se-aman mungkin, dan saya bagikan gratis,” pungkas Koh Steven.
Terkait APD yang diberi label, ia menjelaskan, hal itu dilakukan karena sebelumnya, APD yang disumbangkan gratis, justru diperjual-belikan oleh oknum.