Subhanallah Jenazah Tersebut Masih Utuh, Bahkan Bibirnya Masih Segar Berwarna Merah Seperti Orang Yang Masih Hidup Dan Berbau Harum


Subhanallah Jenazah Tersebut Masih Utuh, Bahkan Bibirnya Masih Segar Berwarna Merah Seperti Orang Yang Masih Hidup Dan Berbau Harum

Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddar lahir di desa ‘Azzah, dekat Kota al-Baidha’ di utara Yaman, pada tahun 1340 H/1921 M. Ayah beliau adalah al-Habib Abdullah dan ibu beliau adalah Hababah Nur binti Abdullah Ba Sahi, seorang wanita shalihah yang dikenal karena amal dan ibadahnya. Ibunya sangatlah pemurah hingga sering membantu orang-orang yang kelaparan, terutama pada saat bencana kelaparan di Yaman selama Perang Dunia Kedua.

Pada masa kecilnya, al-Habib Muhammad al-Haddar belajar al-Quran dan ilmu-ilmu dasar agama dari ayahandanya sendiri dan para ulama Baidha’. Di salah satu malam terakhir bulan Ramadhan sewaktu dirinya berada di masjid disaksikan cahaya yang cemerlang, malam Lailatul Qadar. Merupakan hal yang sangat utama dan mulia tatkala seorang hamba diberikan anugerah oleh Allah Swt. dapat menyaksikan malam yang satu malamnya lebih baik daripada seribu bulan.

Al-Habib Muhammad al-Haddar menghabiskan 4 tahun untuk belajar di Rubath Tarim dengan usaha yang sangat gigih. Kegigihan itu tergambarkan setiap sebelum dimulainya pelajaran beliau selalu mempersiapkan pelajaran-pelajaran itu dengan membacanya setidaknya hingga delapan belas kali.

Dan sehari-harinya beliau hanya tidur sekitar dua jam, satu jam di siang hari dan satu jam di malam harinya. Sehingga menjadikan al-Habib Abdullah asy-Syathiri, sang guru, mengakui kemampuannya dan memberinya perhatian khusus serta tanggung jawab penuh.

Selain kepada ayahandanya sendiri dan kepada pengasuh Rubath asy-Syathiri, beliau juga telah belajar dengan para ulama yang masyhur pada zamannya. Diantaranya adalah Al-Habib Alwi bin Abdullah Shihabuddin, Al-Habib Ja’far bin Ahmad Alaydrus, Asy-Syaikh Mahfudz bin Salim az-Zubaidi, dan masih banyak lagi.

Perjuangan dan dakwahnya luar biasa. Beliau keliling dunia. Sampai akhirnya datang sakit dari Allah Swt. Sebelum kewafatannya pun beliau mend3rita sakit. Hingga menjelang akhir hidupnya beliau masih sempat pindah ke Mekkah. Kata-kata terakhir yang sering beliau lafadzkan setiap hari pada masa akhir-akhir hidupnya adalah:

  • لا إِلَهَ إِلاّ الله أَفْنِي بِها عُمْري
  • لا إِلَهَ إِلاّ الله أَدْخُل بِها قَبْري
  • لا إِلَهَ إِلاّ الله أَخْلو بِها وَحْدي
  • لا إِلَهَ إِلاّ الله أَلْقى بِها رَبِّي
  • “La Ilaha Illallah, dengan itu aku mengakhiri hidupku.
  • La Ilaha Illallah, dengan itu aku masuk ke dalam kuburku.
  • La Ilaha Illallah, dengan itu aku memisahkan diriku.
  • La Ilaha Illallah, dengan itu aku bertemu Tuhanku.”

Hingga akhirnya beliau tersungkur bersujud dan ruhnya meninggalkan tubuhnya. Beliau pun wafat meninggalkan dunia yang fana ini pada tanggal 08 Rabi’ul Akhir tahun 1418 H/1997 M. Jenazahnya dimakamkan di dekat makam ibundanya, di Makkah.

Pada suatu ketika, di Mekkah ada pembongkaran maqam, dengan menggunakan bolduser. Tanpa sengaja, ada salah satu jenazah yang terangkat beserta kain kafannya. Setelah dibuka kain kafan tersebut, Subhanallah jenazah tersebut masih utuh, bahkan bibirnya masih segar berwarna merah seperti orang yang masih hidup dan berbau harum.

Para pembongkar maqam penasaran. Tahukah jenazah siapakah itu? Ternyata, itu adalah jenazah Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddar. Beliau tak lain adalah guru Habib Umar bin Hafidz Yaman dan sekaligus mertua Habib Umar. Juga, beliau adalah guru dan mertua Al-Habib Zein bin Smith.

Sumber:infokoni